Catatan Calon Master

Beasiswa Unggulan Fast Track ITB, Magister 2011/2012

February 20, 2012 9:35 pm

Pembakuan Asam Sorbat

Hari ini saya belajar membakukan asam sorbat non CoA. Asam sorbat dilarutkan dalam metanol lalu dititrasi dengan NaOH 0,1 N. NaOH 0,1 N nya dibakukan terlebih dahulu dengan cara dititrasi oleh kalium biftalat. Lalu NaOH yang telah diketahui konsentrasinya digunakan untuk menitrasi asam sorbat. Volume NaOH akan sebanding dengan konsentrasi asam sorbat. Jangan lupa metanol yang digunakan sebagai pelarut juga bersifat asam lemah sehingga harus dititrasi juga dengan NaOH. Volume NaOH yang digunakan untuk menitrasi asam sorbat dalam metanol dikurangi dengan volume NaOH yang digunakan untuk menitrasi metanol saja. Didapat kemurnian asam sorbat 91,9%.

Saya belum bisa menitrasi asam benzoat karena indikator fenol merah yang digunakan untuk menitrasi asam benzoat menurut farmakope, tidak tersedia di gudang. Sedangkan untuk asam sorbat, digunakan fenolftalein. Saya bermaksud mencoba mengganti indikator fenol merah dengan fenolftalein, karena rentang pH-nya cukup dekat. Mungkin saya akan mengerjakannya besok.

February 19, 2012 7:01 pm

Saya memikirkan beberapa hal tentang sorbat dan benzoat. Setelah dipikir-pikir saya mau make bentuk asamnya saja, walaupun di lab ada bentuk garam dari benzoat. Masalahnya semuanya bukan CRM (certified reference material). Jadi harus dibakukan lagi konsentrasinya dengan titrasi. Jika saya menggunakan Na-benzoat, bentuk asamnya harus diekstraksi lagi dengan cara diasamkan, yang pasti akan mempengaruhi volume NaOH yang digunakan untuk titrasi. Jadi saya akan menggunakan baik asam benzoat dan asam sorbat dari gudang. Masalah bisa timbul kalau puncak kromatogram untuk asam benzoat maupun sorbat tidak tunggal, dan masing-masing mengandung cemaran yang lainnya. Nahh, apakah kalau begini harus mengkonversi lagi dari persen AUC total, hmm… Entah harus cek kromatogram dulu atau coba membakukan benzoat dan sorbatnya dulu. Terakhir kali kromatogram benzoat dari garamnya menunjukkan puncak tunggal, demikian juga sorbat. Tapi enggak jamin asam benzoat yang ada di gudang enggak terkontaminasi. Sepertinya besok mau ke gudang dulu setelah kelas fisiko, minta benzoat segram. Sekalian minta ammonium asetat 10 gram untuk daparnya.

4:59 am

Saya baru aja ngetik catatan kemajuan tesis saya, cukup panjang, hampir beres dan tiba tiba salah tekan dan voila… ilang. Seharusnya ada draft kan. Mana? Mana? Sial!!

Saya gak mau nulis panjang lebar lagi ah. Pokoknya saya udah nyebarin kuesioner 2 dan harusnya besok udah balik. Dan saya udah belanja produk buat tesis. Dan jumat saya ngelab lagi buat nyobain metode benzoat dan sorbat. Udah itu aja.

(saya mau maki-maki karna kesal tapi ini blog semi-formal, yaudah lah, dan saya ngetikin ini dengan nekan-nekan keyboard dengan super keras)

Sampai ketemu lagi.

January 23, 2012 8:38 am

Kue Keranjang

Gong Xi Fa Cai!!

Walaupun saya seorang Muslim, tapi Imlek selalu menarik bagi saya. Di luar dari masalah perbedaan agama, saya memandang Imlek sebagai perayaan tahun baruan biasa. Tapi unik karna dengan dekorasi serba China : lampion, kertas harapan yang digantung di pohon mei hwa, barongsai. Saya selalu antusias melihat dekorasi Imlek yang serba merah. Merahnya itu berani banget, rame, dan bikin saya yg lihat jadi semangat.

Dulu waktu saya masih sekolah dan tinggal sama orang tua di Aceh, setiap Imlek dan melihat liputan tentang makanan khas Imlek, ibu saya selalu bilang “Ibu mau lah makan kue keranjang, digoreng enak tuh. Sayang di Aceh gak ada yang jual”. Ibu saya lahir dan besar di Medan. Ibunya ibu saya (nenek saya), keturunan Tionghoa. Jadi ibu saya terbiasa merayakan Imlek waktu kecilnya, mungkin sampai kemudian kakek dan nenek saya bercerai. Dan keinginan ibu saya untuk makan kue keranjang itu gak pernah kesampaian, tapi harapannya selalu diulang-ulang setiap tahunnya, pas Imlek.

(kue keranjang)

Beberapa hari yang lalu saya belanja ke Superindo sama pacar, dan pacar saya berhenti di depan rak kue keranjang, sambil nyeletuk, “Hmm, kue keranjang. Enak nih kalo digoreng! Pernah nyoba gak?”. Saya bilang, enggak, lagipula saya enggak suka dodol-dodolan. Saya bilang, bahwa ibu saya pernah mengatakan hal serupa. Apa rasanya sih dodol digoreng, pikir saya. Karna penasaran, akhirnya pacar saya membeli sebongkah bulatan kue keranjang yang sudah agak keras, dan menyuruh saya menggorengnya, karna di kosan saya ada kompor, sementara di kosannya tidak ada. Sampai di rumah, saya menelpon ibu saya, menanyakan bagaimana cara menggoreng kue keranjang. Kata ibu saya, pakai telur. Saya yang merasa instruksi itu cukup jelas pun tidak bertanya lebih jauh.

Kemarin sore, ibu saya menelpon saat saya di luar membeli telur sama pacar. Saat saya menelpon balik, ibu saya bertanya bagaimana jadinya kue keranjang yang saya goreng. Ternyata gara-gara saya, ibu saya jadi ngidam kue keranjang goreng. Saya jawab, kalau saya belum menggorengnya. Kemudian selepas magrib pacar saya bertanya, kenapa tadi ibu saya menelpon. Saya jawab, ibu ngidam kue keranjang. Pacar saya ketawa. Tapi tiba-tiba pacar saya nyeletuk, “Neng, goreng dong, aa’ jadi mau makan, buat cemilan malam”. Ehhh, ada apa sih, kenapa ngidam kue keranjang goreng ini jadi menular? (-_-)

Akhirnya saya menggoreng kue keranjang. Caranya, kue keranjangnya dipotong-potong setebal 1,5 cm terus direndam dalam telur kocok, lantas digoreng. Hasilnya : Aneh!! Bayangkan makanan manis digoreng pake telor kocok. Luarnya krispi agak asin, sementara dalamnya manis dan lembut seperti dodol. Sayang banget saya enggak sempat moto gimana penampakan kue keranjang gorengan saya.

Pagi ini saya searching gambar kue keranjang goreng yang seharusnya.

(-_-), ternyata harusnya pake tepung bukan pake telur. Yaaaahh, ibu menyesatkan saya.

Kue keranjang-nya masih ada setengah lagi. Hari ini saya mau coba goreng lagi pake tepung bumbu pisang goreng deh. Wish me luck :D

January 21, 2012 7:15 am

Cita-cita

Waktu TK saya ditanya guru TK, “Ririn kalau udah besar mau jadi apa?”. Saya jawab “Polisi bu”. Ibu guru TK, “Wah, hebat, mau jadi polwan ya?”. Saya, “Bukan Bu, Polisi, bukan Polwan”. Ibu guru tertawa.

Waktu SD teman saya nanya, “Sab, cita-citamu pasti mau jadi dokter ya? Atau insinyur?”. Saya jawab, “Enggak, mau jadi tentara kok”. Teman saya, “Wew, cewek jadi tentara, emang bisa?”. Saya, “Emang gak bisa?”. Teman saya, “Gak pernah dengar tuh!”. Saya, “Di Amerika bisa tuh!”. Teman saya, “Kamu kebanyakan nonton film, Indonesia kan enggak kayak Amerika”. Saya, “Yah, gak asik”.

Waktu SMP teman saya (yang lain) nanya, “Kamu mau jadi apa?”. Saya, “Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa ya? Aku malu”. Dia, “Ahh, gitu aja kok malu”. Saya, “Janji dulu.” Dia, “Iya, janji”. Saya, “Aku mau jadi agen intelijen”. Teman saya diam. Saya, “Itu loh, mata-mata gitu, tapi buat pemerintah”. Dia, “Iya, aku tau. Kamu gak bisa pengen jadi sesuatu yang normal aja apa?”. Saya, “Tapi aku suka. Menurut aku keren, kayak di film Alias”. Teman saya, “Ya deh, ya deh”.

Di hari yang lain, waktu saya masih SMP juga, ayah saya nanya, “Adek, mau jadi apa sih? Insinyur mau?”. Saya, “Mau sih Yah. Tapi sebenernya Dedek pengen jadi agen intelijen, mata-mata”. Ayah, “Hooo.. kerjanya dimana?”. Saya, “Di BIN dong Yah, Badan Intelijen Negara. Bisa gak ya, Dedek kerjanya insinyur tapi sebenernya mata-mata?”. Ayah, “Mungkin bisa”. Sementara itu, ibu saya yang sedari tadi nguping tak tahan untuk mencemooh, “Yang bener aja mau jadi mata-mata. Nyimpan rahasia aja gak bisa”.

Waktu SMA, ayah kembali nanya, “Adek masih pengen jadi intel?”. Saya, “Masih, sih Yah, tapi kayaknya susah. Gak tau gimana caranya”. Ayah, “Jadi mau gimana?”. Saya, “Dedek mau jadi jaksa ajalah Yah. Tapi kalo gitu, dedek boleh masuk IPS ya?”. Ibu saya motong, “Apa? Gak ada cerita masuk IPS. Kamu itu pintar, buat apa masuk IPS. Jangan aneh-aneh deh, masuk IPA aja!”. Ayah saya menjawab, “Bukan soal IPA atau IPS, ayah gak setuju Dedek jadi jaksa. Itu pekerjaan yang gak jelas hitam-putih, benar-salah. Banyak dosanya”. Saya, “Pasti yang Ayah maksud itu pengacara. Jaksa bukan pengacara Yah. Jaksa itu menuntut tersangka yang diajukan sama kepolisian. Jadi jaksa itu membantu polisi. Jaksa itu baik Yah, kayak di film Chun Hyang”. Ayah saya, “Apapun itu, jangan berkecimpung di dunia hukum, banyak gak jujur-nya. Mending jadi intel aja sana”. Sementara itu ibu saya, “Apapun itu, jangan pernah masuk IPS”.

Kemudian saya melanjutkan SMA di kelas IPA. Dengan cita-cita tidak jelas mau jadi apa. Satu hal yang saya tahu pasti, saya mau masuk ITB. Jurusan apa? Terserahlah, yang penting ITB. Lulus ITB mau jadi apa? Nanti aja dipikirin kalau udah diterima masuk ITB.

Sampai ketika sudah kuliah di ITB pun saya tidak tahu mau jadi apa. Tahun pertama saya mau jadi dokter anastesi. Tapi urung, karna ternyata kata dosen saya farmasis gak bisa jadi dokter anastesi. Padahal kan dokter anastesi cuma menghitung dosis bius yang diperlukan buat operasi. Yang nyuntikin palingan dokter bedahnya, atau bahkan perawat. Gak adil.

Kemudian tingkat 2, saya mau kerja di rumah sakit di bidang farmasi klinik. Lagi-lagi urung karna ternyata farmasi klinik di Indonesia belum berkembang. Farmasis di rumah sakit masih identik sama ngurusin gudang obat.

Di tingkat 3, saya mau jadi dosen. Ya akhirnya saya putus asa, gak tau mau jadi apa, ya sudahlah saya mau jadi dosen aja. Di ITB tapi, karna gaji dosen di ITB besar.

Di tulisan sebelumnya saya udah pernah bilang, kalau saya enggak mau jadi dosen. Jadi tentu saja, keinginan jadi dosen di tingkat 3 itu tidak bertahan lama. Di tingkat 4, saya yang mengerjakan TA di bidang pangan, memutuskan akan bekerja di industri pangan.

Kemudian di pendidikan magister, saya malah tergiur ingin bekerja di perusahaan migas. Kenapa tidak, saya bisa melakukan beberapa analisis kimia instrumental. Pemisahan analitik, saya belajar prinsipnya. Pemeriksaan mikrobiologis, saya juga tahu prinsipnya. Kimia bisa bekerja di perusahaan migas, kenapa saya tidak bisa? Toh saya mengambil KK Farmakokimia. Semua orang toh belajar lagi dari awal ketika akan mulai bekerja. Belajar dari nol, saya berbakat dalam hal itu. Toh waktu masuk farmasi saya terbelakang sekali dalam hal kimia.

Siapa yg tidak tergiur ingin kerja di perusahaan migas, gajinya tentu saja. Saya sih ingin membantu perekonomian keluarga. Tapi bekerja dimana pun juga tidak masalah, asalkan gaji minimal 5 juta :D.

23 tahun hidup, saya menyadari bahwa manusia itu sangat lenting seperti bola yang memantul ketika bertumbukan dengan tembok. Walaupun melambat, bola akan terus menggelinding sampai suatu saat terhenti karna gesekan. Semua cita-cita saya yang tidak kesampaian tidak mematahkan keinginan saya untuk terus merencanakan yang terbaik untuk hidup saya. Tahun depan bila masih hidup, mungkin rencana saya berubah lagi. Siapa yang tahu :)

6:12 am
"In the end, we will remember not the words of our enemies, but the silence of our friends."

Martin Luther King Jr.
6:10 am
"The world suffers a lot. Not because of the violence of bad people. But because of the silence of good people."

Napoleon Bonaparte
January 20, 2012 6:50 am

Tentang Tesis

Saya belum cerita tentang tesis saya ya. Untuk tesis, saya melakukan perkiraan paparan bahan tambahan pangan dalam makanan/minuman siap saji yang dikonsumsi oleh teman-teman s1 di Sekolah Farmasi mulai dari tingkat 1 sampai tingkat 4. Dasar pemikirannya sih, mahasiswa itu kan kelompok yang paling banyak mengonsumsi makanan/minuman siap saji. Kenapa dipilihnya sampel dari fakultas sendiri? Selain karna lebih gampang, mahasiswa/i farmasi kan dianggap melek soal kesehatan (sebagai satu-satunya fakultas yang berbau kesehatan di ITB). Kalau mahasiswa/i farmasi aja udah gak bener pola konsumsinya, apalagi mahasiswa/i dari jurusan laen-laen.

Adek-adek dari tingkat 1-4 saya minta untuk menulis semua makanan dan minuman yg mereka makan dalam 24 jam, lengkap sama jumlah, merk/varian, dan cara penyiapannya. Setelah itu, saya akan mengurutkan semua makanan/minuman yg mereka tulis, dari yang paling banyak dikonsumsi. Makanan/minuman yang paling banyak ditulis itu, akan dimasukkan ke daftar dalam kuesioner kedua, yang nantinya adek-adek tadi disuruh ngisi lagi frekuensi mengonsumsi makanan/minuman dalam daftar itu setiap bulannya.

Kerjaan saya berikutnya belanja semua produk yang masuk daftar kuesioner kedua trus meriksa kandungan total bahan tambahan pangan dari kelompok pengawet, pewarna, dan antioksidannya. FYI, bagian analisis ini gak gampang, dan pasti bakal makan waktu lama. Kenapa? Ya karna pewarna, antioksidan, dan pengawet masing-masing ada banyak. Dan semuanya belum tentu bisa diperiksa sekaligus. Antioksidan BHA, BHT, TBHQ bisa dianalisis sekali jalan pake satu sistem HPLC pada panjang gelombang yg sama. Pewarna belum tentu. Karna dikerjain pake detektor UV, sudah pasti panjang gelombang untuk pewarna merah beda sama pewarna kuning atau biru. Pengawet, wahh saya gak tau sama sekali kalo ini, saya gak pernah punya pengalaman soal analisis pengawet, mau gak mau saya harus cari metode lagi dan optimasi lagi dari awal. Belum lagi masalah paling menyebalkan kalau mengerjakan sampel makanan adalah dari matriks-nya. Matriks makanan itu kompleks dan menyulitkan ekstraksi. Disaring pake membran filter 0,22 pun, yang ada membran-nya cepat tersumbat. Untuk memudahkan penyaringan, saya biasanya melakukan sentrifugasi dulu biar tepungnya mengendap jadi lebih mudah disaring. Kalau gak hati-hati nyaring, sampel bisa menyumbat kolom HPLC, yang berakibat waktu retensi bergeser ke kanan dari hari ke hari. Belum lagi ketajaman dan simetri puncak bisa jelek. Pokoknya jera deh kerja sama sampel makanan. Dulu pas TA saya mengerjakan analisis pewarna tartrazin dalam mie instan saja sudah kewalahan. Itu satu macam pewarna saja, dan satu sampel makanan saja, dan waktu itu saya hampir tidak lulus Juli.

Sejujurnya saya gak yakin bisa wisuda Juli tahun ini. Tapi saya gak mau mengisi kepala saya dengan pikiran-pikiran negatif yang bisa membuat saya lebih stres daripada sekarang. Saya mau menikmati hidup sebisanya. Semua orang harus bekerja keras. Yang perlu saya lakukan hanya mengerjakan apa yang sudah tertulis dalam rencana kerja, dan sesuai jadwal. Selama saya terus mengerjakannya, pasti akan selesai. B-)

January 16, 2012 3:48 pm

BFF

Because when the sun shines, we’ll shine together. Told you I’ll be here forever. Said “I’ll always be your friend”. Took an oath, I’m gonna stick it out to the end.


12:02 pm

Kebanyakan orang yang tau saya fast track, selalu bilang “wah enak ya”. Saya bingung, enak apanya. Saya bosan, jenuh, kuliah 5 tahun non stop. Baru saja tahun lalu saya beres TA, semester lalu saya sudah mulai berkutat sama tesis 1, dan semester sekarang mulai mengerjakan tesis 2. Bagian mana enaknya.

Bukannya saya tidak bersyukur. Saya merasa beruntung. Ya iyalah, ayah saya sedang menjalani masa persiapan pensiun sejak Maret 2011 dan benar-benar akan pensiun Maret 2012. Darimana uang utk membiayai kuliah magister saya. Tapi setiap orang punya prioritas yang berbeda-beda. Beberapa orang memilih akademik. Saya pribadi, memilih segera bekerja agar bisa membiayai hidup orang tua saya.

Hidup saya gak gampang. Keluarga saya gak punya usaha yang bisa diwariskan. Kalau gak kerja ya gak ada uang. Sementara fisik ayah saya sudah makin lemah. Otot-otot yg terbentuk puluhan tahun bekerja di lapangan sudah menghilang, yg tersisa hanya kulit yg mengendur dan sedikit daging. Ibu saya yg masih kepala 4 akhir, biasa melayani pesanan kue-kue, tapi kasihan juga kalau ibu masih harus usaha katering, sendirian.

Dari sejak sebelum lulus s1, saya sudah mulai mencari kerja. Mungkin emang belum rezeki, gak ada panggilan. Panggilan wawancara baru datang saat saya sudah menjalani semester 1 pendidikan magister. Sampai sekarang pun saya masih mencoba mencari kerja. Dengan harapan setelah selesai pendidikan magister, saya bisa langsung kerja.

Orang-orang terdekat saya tak berhenti menyarankan agar saya jadi dosen. Tapi saya belum berniat s3. Saya juga gak berniat jadi dosen. Dosen adalah pekerjaan mulia, tapi juga berat. Saya gak mau jadi dosen tapi gak punya kapabilitas. Tanggung jawab saya ke Tuhan. Sementara sebagai seorang plegmatis, saya merasa bakat saya adalah jadi pekerja, bukan peneliti. Saya bisa improvisasi tapi butuh arahan. Saya menghadapi TA dan tesis sendiri saja sudah jenuh bukan main, apalagi mengurus skripsi mahasiswa.

Rencana saya ke depan, setelah wisuda magister, saya mau langsung kerja, minimal 3 tahun. Kalau diberi kemudahan, saya mau mengambil pendidikan magister dari keilmuan lain yang sesuai dengan bidang kerja saya. Saya lebih tertarik mempunyai lebih dari satu gelar master daripada mempunyai gelar doktor.