Catatan Calon Master

Beasiswa Unggulan Fast Track ITB, Magister 2011/2012

January 16, 2012 12:02 pm

Kebanyakan orang yang tau saya fast track, selalu bilang “wah enak ya”. Saya bingung, enak apanya. Saya bosan, jenuh, kuliah 5 tahun non stop. Baru saja tahun lalu saya beres TA, semester lalu saya sudah mulai berkutat sama tesis 1, dan semester sekarang mulai mengerjakan tesis 2. Bagian mana enaknya.

Bukannya saya tidak bersyukur. Saya merasa beruntung. Ya iyalah, ayah saya sedang menjalani masa persiapan pensiun sejak Maret 2011 dan benar-benar akan pensiun Maret 2012. Darimana uang utk membiayai kuliah magister saya. Tapi setiap orang punya prioritas yang berbeda-beda. Beberapa orang memilih akademik. Saya pribadi, memilih segera bekerja agar bisa membiayai hidup orang tua saya.

Hidup saya gak gampang. Keluarga saya gak punya usaha yang bisa diwariskan. Kalau gak kerja ya gak ada uang. Sementara fisik ayah saya sudah makin lemah. Otot-otot yg terbentuk puluhan tahun bekerja di lapangan sudah menghilang, yg tersisa hanya kulit yg mengendur dan sedikit daging. Ibu saya yg masih kepala 4 akhir, biasa melayani pesanan kue-kue, tapi kasihan juga kalau ibu masih harus usaha katering, sendirian.

Dari sejak sebelum lulus s1, saya sudah mulai mencari kerja. Mungkin emang belum rezeki, gak ada panggilan. Panggilan wawancara baru datang saat saya sudah menjalani semester 1 pendidikan magister. Sampai sekarang pun saya masih mencoba mencari kerja. Dengan harapan setelah selesai pendidikan magister, saya bisa langsung kerja.

Orang-orang terdekat saya tak berhenti menyarankan agar saya jadi dosen. Tapi saya belum berniat s3. Saya juga gak berniat jadi dosen. Dosen adalah pekerjaan mulia, tapi juga berat. Saya gak mau jadi dosen tapi gak punya kapabilitas. Tanggung jawab saya ke Tuhan. Sementara sebagai seorang plegmatis, saya merasa bakat saya adalah jadi pekerja, bukan peneliti. Saya bisa improvisasi tapi butuh arahan. Saya menghadapi TA dan tesis sendiri saja sudah jenuh bukan main, apalagi mengurus skripsi mahasiswa.

Rencana saya ke depan, setelah wisuda magister, saya mau langsung kerja, minimal 3 tahun. Kalau diberi kemudahan, saya mau mengambil pendidikan magister dari keilmuan lain yang sesuai dengan bidang kerja saya. Saya lebih tertarik mempunyai lebih dari satu gelar master daripada mempunyai gelar doktor.