Beasiswa Unggulan Fast Track ITB, Magister 2011/2012
Saya belum cerita tentang tesis saya ya. Untuk tesis, saya melakukan perkiraan paparan bahan tambahan pangan dalam makanan/minuman siap saji yang dikonsumsi oleh teman-teman s1 di Sekolah Farmasi mulai dari tingkat 1 sampai tingkat 4. Dasar pemikirannya sih, mahasiswa itu kan kelompok yang paling banyak mengonsumsi makanan/minuman siap saji. Kenapa dipilihnya sampel dari fakultas sendiri? Selain karna lebih gampang, mahasiswa/i farmasi kan dianggap melek soal kesehatan (sebagai satu-satunya fakultas yang berbau kesehatan di ITB). Kalau mahasiswa/i farmasi aja udah gak bener pola konsumsinya, apalagi mahasiswa/i dari jurusan laen-laen.
Adek-adek dari tingkat 1-4 saya minta untuk menulis semua makanan dan minuman yg mereka makan dalam 24 jam, lengkap sama jumlah, merk/varian, dan cara penyiapannya. Setelah itu, saya akan mengurutkan semua makanan/minuman yg mereka tulis, dari yang paling banyak dikonsumsi. Makanan/minuman yang paling banyak ditulis itu, akan dimasukkan ke daftar dalam kuesioner kedua, yang nantinya adek-adek tadi disuruh ngisi lagi frekuensi mengonsumsi makanan/minuman dalam daftar itu setiap bulannya.
Kerjaan saya berikutnya belanja semua produk yang masuk daftar kuesioner kedua trus meriksa kandungan total bahan tambahan pangan dari kelompok pengawet, pewarna, dan antioksidannya. FYI, bagian analisis ini gak gampang, dan pasti bakal makan waktu lama. Kenapa? Ya karna pewarna, antioksidan, dan pengawet masing-masing ada banyak. Dan semuanya belum tentu bisa diperiksa sekaligus. Antioksidan BHA, BHT, TBHQ bisa dianalisis sekali jalan pake satu sistem HPLC pada panjang gelombang yg sama. Pewarna belum tentu. Karna dikerjain pake detektor UV, sudah pasti panjang gelombang untuk pewarna merah beda sama pewarna kuning atau biru. Pengawet, wahh saya gak tau sama sekali kalo ini, saya gak pernah punya pengalaman soal analisis pengawet, mau gak mau saya harus cari metode lagi dan optimasi lagi dari awal. Belum lagi masalah paling menyebalkan kalau mengerjakan sampel makanan adalah dari matriks-nya. Matriks makanan itu kompleks dan menyulitkan ekstraksi. Disaring pake membran filter 0,22 pun, yang ada membran-nya cepat tersumbat. Untuk memudahkan penyaringan, saya biasanya melakukan sentrifugasi dulu biar tepungnya mengendap jadi lebih mudah disaring. Kalau gak hati-hati nyaring, sampel bisa menyumbat kolom HPLC, yang berakibat waktu retensi bergeser ke kanan dari hari ke hari. Belum lagi ketajaman dan simetri puncak bisa jelek. Pokoknya jera deh kerja sama sampel makanan. Dulu pas TA saya mengerjakan analisis pewarna tartrazin dalam mie instan saja sudah kewalahan. Itu satu macam pewarna saja, dan satu sampel makanan saja, dan waktu itu saya hampir tidak lulus Juli.
Sejujurnya saya gak yakin bisa wisuda Juli tahun ini. Tapi saya gak mau mengisi kepala saya dengan pikiran-pikiran negatif yang bisa membuat saya lebih stres daripada sekarang. Saya mau menikmati hidup sebisanya. Semua orang harus bekerja keras. Yang perlu saya lakukan hanya mengerjakan apa yang sudah tertulis dalam rencana kerja, dan sesuai jadwal. Selama saya terus mengerjakannya, pasti akan selesai. B-)