Beasiswa Unggulan Fast Track ITB, Magister 2011/2012
Waktu TK saya ditanya guru TK, “Ririn kalau udah besar mau jadi apa?”. Saya jawab “Polisi bu”. Ibu guru TK, “Wah, hebat, mau jadi polwan ya?”. Saya, “Bukan Bu, Polisi, bukan Polwan”. Ibu guru tertawa.
Waktu SD teman saya nanya, “Sab, cita-citamu pasti mau jadi dokter ya? Atau insinyur?”. Saya jawab, “Enggak, mau jadi tentara kok”. Teman saya, “Wew, cewek jadi tentara, emang bisa?”. Saya, “Emang gak bisa?”. Teman saya, “Gak pernah dengar tuh!”. Saya, “Di Amerika bisa tuh!”. Teman saya, “Kamu kebanyakan nonton film, Indonesia kan enggak kayak Amerika”. Saya, “Yah, gak asik”.
Waktu SMP teman saya (yang lain) nanya, “Kamu mau jadi apa?”. Saya, “Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa ya? Aku malu”. Dia, “Ahh, gitu aja kok malu”. Saya, “Janji dulu.” Dia, “Iya, janji”. Saya, “Aku mau jadi agen intelijen”. Teman saya diam. Saya, “Itu loh, mata-mata gitu, tapi buat pemerintah”. Dia, “Iya, aku tau. Kamu gak bisa pengen jadi sesuatu yang normal aja apa?”. Saya, “Tapi aku suka. Menurut aku keren, kayak di film Alias”. Teman saya, “Ya deh, ya deh”.
Di hari yang lain, waktu saya masih SMP juga, ayah saya nanya, “Adek, mau jadi apa sih? Insinyur mau?”. Saya, “Mau sih Yah. Tapi sebenernya Dedek pengen jadi agen intelijen, mata-mata”. Ayah, “Hooo.. kerjanya dimana?”. Saya, “Di BIN dong Yah, Badan Intelijen Negara. Bisa gak ya, Dedek kerjanya insinyur tapi sebenernya mata-mata?”. Ayah, “Mungkin bisa”. Sementara itu, ibu saya yang sedari tadi nguping tak tahan untuk mencemooh, “Yang bener aja mau jadi mata-mata. Nyimpan rahasia aja gak bisa”.
Waktu SMA, ayah kembali nanya, “Adek masih pengen jadi intel?”. Saya, “Masih, sih Yah, tapi kayaknya susah. Gak tau gimana caranya”. Ayah, “Jadi mau gimana?”. Saya, “Dedek mau jadi jaksa ajalah Yah. Tapi kalo gitu, dedek boleh masuk IPS ya?”. Ibu saya motong, “Apa? Gak ada cerita masuk IPS. Kamu itu pintar, buat apa masuk IPS. Jangan aneh-aneh deh, masuk IPA aja!”. Ayah saya menjawab, “Bukan soal IPA atau IPS, ayah gak setuju Dedek jadi jaksa. Itu pekerjaan yang gak jelas hitam-putih, benar-salah. Banyak dosanya”. Saya, “Pasti yang Ayah maksud itu pengacara. Jaksa bukan pengacara Yah. Jaksa itu menuntut tersangka yang diajukan sama kepolisian. Jadi jaksa itu membantu polisi. Jaksa itu baik Yah, kayak di film Chun Hyang”. Ayah saya, “Apapun itu, jangan berkecimpung di dunia hukum, banyak gak jujur-nya. Mending jadi intel aja sana”. Sementara itu ibu saya, “Apapun itu, jangan pernah masuk IPS”.
Kemudian saya melanjutkan SMA di kelas IPA. Dengan cita-cita tidak jelas mau jadi apa. Satu hal yang saya tahu pasti, saya mau masuk ITB. Jurusan apa? Terserahlah, yang penting ITB. Lulus ITB mau jadi apa? Nanti aja dipikirin kalau udah diterima masuk ITB.
Sampai ketika sudah kuliah di ITB pun saya tidak tahu mau jadi apa. Tahun pertama saya mau jadi dokter anastesi. Tapi urung, karna ternyata kata dosen saya farmasis gak bisa jadi dokter anastesi. Padahal kan dokter anastesi cuma menghitung dosis bius yang diperlukan buat operasi. Yang nyuntikin palingan dokter bedahnya, atau bahkan perawat. Gak adil.
Kemudian tingkat 2, saya mau kerja di rumah sakit di bidang farmasi klinik. Lagi-lagi urung karna ternyata farmasi klinik di Indonesia belum berkembang. Farmasis di rumah sakit masih identik sama ngurusin gudang obat.
Di tingkat 3, saya mau jadi dosen. Ya akhirnya saya putus asa, gak tau mau jadi apa, ya sudahlah saya mau jadi dosen aja. Di ITB tapi, karna gaji dosen di ITB besar.
Di tulisan sebelumnya saya udah pernah bilang, kalau saya enggak mau jadi dosen. Jadi tentu saja, keinginan jadi dosen di tingkat 3 itu tidak bertahan lama. Di tingkat 4, saya yang mengerjakan TA di bidang pangan, memutuskan akan bekerja di industri pangan.
Kemudian di pendidikan magister, saya malah tergiur ingin bekerja di perusahaan migas. Kenapa tidak, saya bisa melakukan beberapa analisis kimia instrumental. Pemisahan analitik, saya belajar prinsipnya. Pemeriksaan mikrobiologis, saya juga tahu prinsipnya. Kimia bisa bekerja di perusahaan migas, kenapa saya tidak bisa? Toh saya mengambil KK Farmakokimia. Semua orang toh belajar lagi dari awal ketika akan mulai bekerja. Belajar dari nol, saya berbakat dalam hal itu. Toh waktu masuk farmasi saya terbelakang sekali dalam hal kimia.
Siapa yg tidak tergiur ingin kerja di perusahaan migas, gajinya tentu saja. Saya sih ingin membantu perekonomian keluarga. Tapi bekerja dimana pun juga tidak masalah, asalkan gaji minimal 5 juta :D.
23 tahun hidup, saya menyadari bahwa manusia itu sangat lenting seperti bola yang memantul ketika bertumbukan dengan tembok. Walaupun melambat, bola akan terus menggelinding sampai suatu saat terhenti karna gesekan. Semua cita-cita saya yang tidak kesampaian tidak mematahkan keinginan saya untuk terus merencanakan yang terbaik untuk hidup saya. Tahun depan bila masih hidup, mungkin rencana saya berubah lagi. Siapa yang tahu :)