Beasiswa Unggulan Fast Track ITB, Magister 2011/2012
Gong Xi Fa Cai!!
Walaupun saya seorang Muslim, tapi Imlek selalu menarik bagi saya. Di luar dari masalah perbedaan agama, saya memandang Imlek sebagai perayaan tahun baruan biasa. Tapi unik karna dengan dekorasi serba China : lampion, kertas harapan yang digantung di pohon mei hwa, barongsai. Saya selalu antusias melihat dekorasi Imlek yang serba merah. Merahnya itu berani banget, rame, dan bikin saya yg lihat jadi semangat.
Dulu waktu saya masih sekolah dan tinggal sama orang tua di Aceh, setiap Imlek dan melihat liputan tentang makanan khas Imlek, ibu saya selalu bilang “Ibu mau lah makan kue keranjang, digoreng enak tuh. Sayang di Aceh gak ada yang jual”. Ibu saya lahir dan besar di Medan. Ibunya ibu saya (nenek saya), keturunan Tionghoa. Jadi ibu saya terbiasa merayakan Imlek waktu kecilnya, mungkin sampai kemudian kakek dan nenek saya bercerai. Dan keinginan ibu saya untuk makan kue keranjang itu gak pernah kesampaian, tapi harapannya selalu diulang-ulang setiap tahunnya, pas Imlek.

(kue keranjang)
Beberapa hari yang lalu saya belanja ke Superindo sama pacar, dan pacar saya berhenti di depan rak kue keranjang, sambil nyeletuk, “Hmm, kue keranjang. Enak nih kalo digoreng! Pernah nyoba gak?”. Saya bilang, enggak, lagipula saya enggak suka dodol-dodolan. Saya bilang, bahwa ibu saya pernah mengatakan hal serupa. Apa rasanya sih dodol digoreng, pikir saya. Karna penasaran, akhirnya pacar saya membeli sebongkah bulatan kue keranjang yang sudah agak keras, dan menyuruh saya menggorengnya, karna di kosan saya ada kompor, sementara di kosannya tidak ada. Sampai di rumah, saya menelpon ibu saya, menanyakan bagaimana cara menggoreng kue keranjang. Kata ibu saya, pakai telur. Saya yang merasa instruksi itu cukup jelas pun tidak bertanya lebih jauh.
Kemarin sore, ibu saya menelpon saat saya di luar membeli telur sama pacar. Saat saya menelpon balik, ibu saya bertanya bagaimana jadinya kue keranjang yang saya goreng. Ternyata gara-gara saya, ibu saya jadi ngidam kue keranjang goreng. Saya jawab, kalau saya belum menggorengnya. Kemudian selepas magrib pacar saya bertanya, kenapa tadi ibu saya menelpon. Saya jawab, ibu ngidam kue keranjang. Pacar saya ketawa. Tapi tiba-tiba pacar saya nyeletuk, “Neng, goreng dong, aa’ jadi mau makan, buat cemilan malam”. Ehhh, ada apa sih, kenapa ngidam kue keranjang goreng ini jadi menular? (-_-)
Akhirnya saya menggoreng kue keranjang. Caranya, kue keranjangnya dipotong-potong setebal 1,5 cm terus direndam dalam telur kocok, lantas digoreng. Hasilnya : Aneh!! Bayangkan makanan manis digoreng pake telor kocok. Luarnya krispi agak asin, sementara dalamnya manis dan lembut seperti dodol. Sayang banget saya enggak sempat moto gimana penampakan kue keranjang gorengan saya.
Pagi ini saya searching gambar kue keranjang goreng yang seharusnya.
(-_-), ternyata harusnya pake tepung bukan pake telur. Yaaaahh, ibu menyesatkan saya.
Kue keranjang-nya masih ada setengah lagi. Hari ini saya mau coba goreng lagi pake tepung bumbu pisang goreng deh. Wish me luck :D